Breaking

Wednesday, October 31, 2018

Cerita Angker Lokasi Jatuhnya Lion Air di Tanjung Pakis

Ocean News, Karawang - Top 3 berita hari ini, Tanjung Pakis atau Tanjung Karawang, namanya kini semakin dikenal setelah Pesawat Lion Air JT 610 dikabarkan jatuh di perairan tersebut. Pencarian besar-besaran pun tengah dilakukan untuk menemukan para korban dan badan pesawat.
Sebelum namanya hangat dibicarakan, Tanjung Pakis dulunya dikenal surganya para pemancing, karena beragam jenis ikan banyak ditemukan.
Namun, kini warga memilih untuk menghindari lokasi tersebut karena dianggap angker. Perahu nelayan kerap terbalik di lokasi jatuhnya Lion Air, lalu korbannya menghilang.
Cerita duka Lion Air juga datang dari para keluarga korban pesawat nahas yang berjumlah 189 penumpang. Salah satunya dari Ana Rohmawati, warga Rejomulyo, Semarang Timur.
Suaminya, Joyo Nuroso menjadi salah satu penumpang Lion Air yang jatuh, pada Senin pagi, 29 Oktober 2018. Dia meyakini bahwa sang suami akan kembali berkumpul bersama keluarga. 
Perasaan yang sama juga dirasakan orangtuan salah satu pramugari Lion Air, Alfiani Hidayatul Solikha. Sang ibu masih berharap adanya mukjizat.

Berikut beberapa cerita Angker Tempat jatuhnya Lokasi Lion Air:

1. Cerita Tentang Tanjung Pakis, Lokasi Jatuhnya Lion Air JT 610
Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang membawa 188 orang penumpang dinyatakan jatuh di perairan Tanjung Pakis di wilayah Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) kemarin.
Tanjung Pakis berada di wilayah utara Kabupaten Karawang atau masuk dalam kawasan pantai utara (Pantura) Laut Jawa. Sejak peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air, nama Tanjung Pakis atau Tanjung Karawang mulai dikenal. 
Tanjung Pakis adalah lokasi yang biasa digunakan nelayan setempat untuk mencari udang serta memancing. Tempat tersebut dikenal sebagai tempat yang sangat banyak ikan dengan berbagai spesies.
Namun siapa yang menyangka jika keberadaan Tanjung Pakis dahulu adalah tempat yang sangat jarang terjamah orang.
"Dulunya sekitar tahun 90-an di lokasi jatuhnya pesawat , nelayan tidak berani ke titik jatuhnya pesawat karena terbilang angker," kata Dadang, nelayan setempat, Selasa (30/10/2018).
Lelaki 52 tahun ini mengatakan di lokasi tersebut merupakan berkumpulnya ikan-ikan besar seperti ikan hiu tutul, dan species lain sehingga nelayan sekitar tidak berani melintasi lokasi tersebut saking banyaknya ikan besar.
"Area di mana jatuhnya pesawat sering terjadi kejadian aneh, sehingga dianggap area yang berbahaya dan harus dihindari oleh nelayan," katanya.
Hal senada juga dikatakan warga setempat, Boros, memang dulu sering terjadi kapal nelayan terbalik di area jatuhnya pesawat dan korbannya hilang misterius sehingga dianggap angker oleh warga dan nelayan sekitar .
"Menurut cerita orang tua dulu memang dianggap angker , nelayan tidak berani mencari ikan dilokasi tersebut," tutur Boros.
Seiring waktu berjalan, kata Boros, sekarang lokasi jatuhnya pesawat dengan kedalaman 30 meter itu menjadi tempat mencari ikan para nelayan dan warga untuk memancing di area tersebut.
Di area tersebut sekarang menjadi tempat mencari ikan udang bagi nelayan dan warga sekitar juga kerap memancing ikan dilokasi tersebut.
"Sekarang banyak warga dan nelayan mencari ikan ke lokasi tersebut karena ikan udang cukup banyak ditemukan ditempat itu," tambah Boros.
Nelayan sekitar wilayah Tanjung Pakis sering memanfaatkan lokasi tersebut untuk mencari ikan karena kesan mistis seperti dulu tidak lagi dirasakan Masayarakat sekitar dan malahan jarang ditemukan ikan-ikan besar seperti hiu dilokasi tersebut yang ada hanya ikan-ikan kecil.
"Sekarang sudah tidak lagi dianggap angker oleh nelayan, malah sering menjadi tujuan untuk mencari ikan udang dengan sampan-sampan ukuran kecil," pungkasnya.

2. Cerita Wali Kota Semarang Soal Keyakinan Istri Korban Lion Air JT 610
Semarang - Mengetahui salah satu warganya, Joyo Nuroso, menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyempatkan diri datang ke rumah duka di Kampung Batik Krajan RT 007/RW 002, Rejomulyo, Semarang Timur, untuk bertemu pihak keluarga.
Ia bahkan sempat mendengarkan keluh kesah istri korban, Ana Rohmawati. Kepada Hendi, Ana mengaku masih berkeyakinan suaminya selamat dari peristiwa nahas tersebut.
"Tadi istrinya bilang, bahwa dirinya masih punya keyakinan jika suaminya akan kembali. Mudah-mudahan keluarga dari Pak Joyo selalu diberi kekuatan. Saya juga mengucapkan terima kasih pada warga Kampung Batik yang mau datang ke rumah duka untuk memberikan kekuatan [dukungan moril] kepada keluarga Bu Joyo,".
Saat ini nasib para korban pesawat Lion Air yang mengalami kecelakaan belum diketahui. Basarnas tengah melakukan pencarian sekaligus mengevakuasi bangkai pesawat yang terjatuh di perairan Tanjung Karawang.
Hendi berharap pencarian para korban akan menemukan titik terang, Selasa (30/10/2018). Nasib para korban dan apa penyebab kecelakaan pesawat yang mengangkut 185 penumpang dan enam pramugari itu juga sudah bisa diketahui publik, terutama keluarga para korban.
Pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang itu mengalami kecelakaan setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Senin, sekitar pukul 06.20 WIB. Pesawat itu sempat mengudara selama 13 menit sebelum jatuh di perairan Tanjung Karawang, tepatnya di titik koordinat S 5’49.052” E 107’ 06.628”.

3. Keluarga Pramugari Lion Air JT 610 Masih Berharap Ada Mukjizat
Keluarga pramugari Lion Air JT 610, Alfiani Hidayatul Solikha, berharap ada mukjizat atau keajaiban terhadap nasib Alfi yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Perairan Tanjung Karawang, Senin (29/10/2018).
Keluarga berharap pramugari Lion Air JT 610 yang merupakan warga RT 014/RW 007, Dusun Gantrung, Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, itu bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
Dua orang perangkat Desa Mojorejo berangkat ke Jakarta untuk mencari tahu kondisi Alfiani.
Keluarga juga telah menerima informasi bahwa Alfi merupakan salah satu korban dalam kecelakaan pesawat rute Jakarta-Pangkal Pinang.
Bibi Alfiani, Katir, mengatakan dirinya berharap Alfi bisa segera ditemukan dalam kondisi selamat. Keluarga menunggu terus memantau perkembangan informasi mengenai pencarian Alfiani.
Dia menuturkan Alfiani merupakan anak yang baik dan tidak neka-neka. Alfi juga dikenal sebagai anak yang pendiam. "Alfi itu anak yang baik. Kami menunggu kabar pencariannya," ujar dia.
Kerabat Alfi lainnya, Wijayanti, berharap Alfi bisa segera ditemukan dalam kondisi baik. Ia berharap ada keajaiban yang bisa menolong Alfiani sehingga pramugari berusia 20 tahun itu bisa ditemukan dalam kondisi hidup.
"Kami berharap Alfi bisa segera ditemukan," kata dia.
Di rumah Alfi di Desa Mojorejo, warga secara berbondong-bondong datang ke rumah yang berada di RT 014/RW 007.
Warga yang datang ingin mengetahui kondisi Alfi yang bertugas di pesawat Lion Air JT 610 yang mengalami kecelakaan di perairan Karawang. (Ady)
Post a Comment